Deezer Terima 60 Ribu Lagu AI per Hari, Siap Lisensikan Teknologi Deteksi ke Industri Musik
Stagehousemusic.com, Paris – Layanan streaming musik Deezer mengungkapkan bahwa mereka kini menerima lebih dari 60.000 lagu yang sepenuhnya dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) setiap hari. Angka tersebut diumumkan pada 29 Januari 2026, sekaligus menegaskan meningkatnya tantangan konten sintetis di industri musik global.
Deezer menyebutkan bahwa musik hasil AI kini mencakup sekitar 39% dari seluruh konten musik yang dikirimkan ke platformnya setiap hari. Jumlah ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan laporan sebelumnya, yakni 50.000 lagu pada November 2025, 30.000 pada September 2025, dan hanya 10.000 lagu saat Deezer pertama kali meluncurkan alat deteksi AI mereka pada Januari 2025.
Setahun setelah peluncuran teknologi tersebut, Deezer mengklaim telah mendeteksi dan memberi label lebih dari 13,4 juta lagu yang dihasilkan AI di platformnya. Kini, perusahaan berbasis Paris itu juga mengumumkan langkah strategis dengan melisensikan teknologi deteksi AI-nya secara komersial kepada industri musik yang lebih luas.
Deezer mengungkapkan bahwa teknologi ini telah melalui uji coba yang sukses bersama sejumlah mitra industri, termasuk Sacem, lembaga pengelola hak cipta asal Prancis.
“Kami melihat minat yang besar terhadap pendekatan dan alat yang kami kembangkan,” ujar Alexis Lanternier, CEO Deezer.
“Mulai sekarang, kami melisensikan teknologi ini agar dapat digunakan secara luas. Deezer terus memimpin dalam menciptakan pengalaman yang transparan bagi artis dan penggemar, serta berkomitmen memerangi penipuan musik berbasis AI di seluruh industri.”
Dalam laporan terbarunya, Deezer juga mengungkap fakta mencemaskan: hingga 85% streaming musik hasil AI pada tahun 2025 tergolong curang, meningkat tajam dari 70% pada tahun sebelumnya. Seluruh streaming tersebut telah dinonaktifkan monetisasinya dan dikeluarkan dari sistem pembagian royalti.
Sebagai perbandingan, penipuan streaming di seluruh katalog Deezer hanya menyumbang sekitar 8% dari total streaming pada 2025. Meski musik hasil AI saat ini hanya menyumbang sekitar 3% dari total streaming, Deezer menegaskan bahwa tujuan utama pengunggahan konten AI adalah untuk menghasilkan streaming palsu.
“Musik yang sepenuhnya dihasilkan AI kini hampir tak bisa dibedakan dari karya manusia,” kata Lanternier.
“Dengan meningkatnya unggahan ke platform streaming, pendekatan kami jelas: transparansi bagi penggemar dan perlindungan hak artis serta penulis lagu.”
Deezer menegaskan bahwa mereka mendeteksi dan memberi tag musik AI, serta mengeluarkannya dari rekomendasi algoritmik dan playlist editorial. Langkah ini bertujuan memberi pilihan yang jelas kepada pengguna sekaligus mempersulit pelaku penipuan memanipulasi sistem.
Saat ini, Deezer mengklaim sebagai satu-satunya platform streaming musik yang secara eksplisit menandai dan mengecualikan musik hasil AI dari sistem rekomendasi algoritmik.
Perusahaan tersebut juga menyebut bahwa alat deteksi AI-nya mampu mengidentifikasi musik yang 100% dihasilkan AI, termasuk dari model generatif populer seperti Suno dan Udio, serta memiliki kemampuan untuk diperluas ke alat AI lainnya. Deezer bahkan mengembangkan sistem dengan kemampuan generalisasi tinggi, sehingga dapat mendeteksi konten AI tanpa bergantung pada dataset pelatihan spesifik.
Pada Desember 2024, Deezer mengajukan dua paten untuk teknologi deteksi AI mereka, yang berfokus pada metode identifikasi tanda tangan unik yang membedakan musik sintetis dari karya buatan manusia.
Pengumuman ini hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak AI pada pendapatan kreator. Berdasarkan studi CISAC dan PMP Strategy, hampir 25% pendapatan kreator musik global berisiko hilang pada 2028, dengan potensi kerugian mencapai €4 miliar.





![[PHOTO] Anca Leksmana – _(Nantikan Ku Kan) Pulang_](https://stagehousemusic.com/wp-content/uploads/2026/01/PHOTO-Anca-Leksmana-_Nantikan-Ku-Kan-Pulang_-300x169.jpg)




