Sony Music Hapus 135.000 Lagu Deepfake AI, Industri Musik Hadapi Ancaman Serius

Spread the love

Stagehousemusic.com, – Raksasa industri musik Sony Music mengungkapkan telah meminta penghapusan lebih dari 135.000 lagu palsu di layanan streaming. Lagu-lagu tersebut dibuat oleh penipu yang menyamar sebagai artis resmi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Konten yang dikenal sebagai deepfake ini dibuat menggunakan AI generatif dan menargetkan sejumlah artis besar, seperti Beyoncé, Queen, dan Harry Styles.

Menurut Sony Music, praktik ini menyebabkan kerugian komersial langsung bagi artis asli, terutama saat mereka sedang mempromosikan karya terbaru.

“Dalam kasus terburuk, deepfake dapat merusak kampanye perilisan atau mencoreng reputasi artis,” ujar Dennis Kooker, Presiden Bisnis Digital Global Sony.

Sony menyebut jumlah lagu palsu terus meningkat karena teknologi AI kini semakin murah dan mudah diakses. Dari total 135.000 lagu yang ditemukan, perusahaan memperkirakan angka tersebut hanya sebagian kecil dari keseluruhan konten palsu di platform streaming.

Sejak Maret saja, sekitar 60.000 lagu telah teridentifikasi secara keliru mengklaim menampilkan artis Sony. Selain itu, artis lain seperti Bad Bunny, Miley Cyrus, dan Mark Ronson juga berpotensi menjadi target.

Kooker menjelaskan bahwa deepfake sering muncul saat permintaan terhadap artis sedang tinggi, seperti saat perilisan album baru.

Fenomena ini dinilai berbahaya karena memanfaatkan popularitas artis dan mengalihkan perhatian publik dari karya asli mereka.

Reuters Taylor Swift memamerkan otot-ototnya saat membawakan lagu The Man dalam tur Eras-nya.
Taylor Swift adalah artis terbesar di dunia tahun lalu, diikuti oleh grup K-pop Stray Kids dan rapper Kanada Drake.

Industri Musik Tumbuh, Tapi Tantangan Meningkat

Pengungkapan ini bertepatan dengan peluncuran laporan global oleh IFPI di London.

Data menunjukkan bahwa pendapatan musik rekaman global meningkat 6,4% tahun lalu, mencapai $31,7 miliar. Ini menjadi tahun ke-11 pertumbuhan berturut-turut, didorong oleh layanan streaming.

Pasar musik terbesar ketiga tetap dipegang Inggris, sementara China kini naik menjadi peringkat keempat dunia.

Sementara itu, Taylor Swift dinobatkan sebagai artis terbesar tahun 2025, dengan album terlaris berjudul The Life Of A Showgirl.

Regulasi AI Mulai Diperketat

Diskusi industri juga menyoroti regulasi AI di Inggris. Pemerintah setempat memutuskan untuk meninjau ulang rencana yang sebelumnya memungkinkan perusahaan AI menggunakan karya berhak cipta tanpa izin.

CEO IFPI, Victoria Oakley, menyatakan optimisme bahwa langkah ini menunjukkan keseimbangan antara perlindungan kreativitas dan inovasi teknologi.

Penipuan Streaming dan Konten AI Kian Marak

Selain deepfake, industri musik juga menghadapi masalah manipulasi streaming, yaitu praktik meningkatkan jumlah pemutaran secara artifisial demi mendapatkan royalti.

Platform seperti Spotify dan Apple Music menjadi target praktik ini.

IFPI memperkirakan hingga 10% konten di platform streaming adalah palsu.

Solusi: Labelisasi Konten AI

Industri musik mendorong transparansi sebagai solusi utama. Salah satu contohnya adalah Deezer, yang telah mengembangkan teknologi untuk mendeteksi lagu berbasis AI.

Menurut Deezer, sekitar 34% lagu yang diunggah ke platform mereka kini teridentifikasi sebagai konten buatan AI.

“Tanpa identifikasi yang jelas, penggemar tidak bisa membedakan karya asli dan konten AI, yang dapat merusak kepercayaan,” ujar Kooker.

Ia menegaskan bahwa transparansi harus menjadi fondasi utama bagi ekosistem musik yang adil dan berkelanjutan.

Reviews

100 %

User Score

1 ratings
Rate This

Sharing

Leave your comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *